Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonom senior Bambang Brodjonegoro menilai konflik Iran dan Israel telah menunjukkan satu sisi kelemahan perekonomian Indonesia. Kelemahan itu, kata dia, adalah masih rapuhnya keseimbangan eksternal Indonesia dari ketidakpastian global, seperti konflik dua negara ini.

“Terus terang ekonomi kita meskipun cukup bagus performanya dengan pertumbuhan rata-rata 5% per tahun dan inflasi yang terkendali 3% atau lebih rendah, tapi kita masih menyimpan satu hal yang rawan yaitu yang namanya keseimbangan eksternal yang ditunjukan oleh neraca perdagangan kita,” kata Bambang dalam acara CNBC Indonesia Closing Bell, dikutip Rabu, (17/4/2024).

Dia mencontohkan masih rapuhnya keseimbangan eksternal RI itu dapat dilihat dari kondisi Rupiah saat ini, ketika menghadapi tingkat bunga tinggi di Amerika Serikat. Menurut dia, apabila secara internal perekonomian RI kuat, maka Indonesia tidak perlu kerepotan menghadapi gejolak global akibat suku bunga yang diterapkan The Federal Reserve.

“Dengan tingkat bunga tinggi di Amerika misalkan, di mana mudah sekali terjadi yang namanya outflow… kalau kita punya kekuatan internal untuk keseimbangan eksternal tadi, ini harusnya dampaknya tidak menjadi merepotkan,” kata dia.

Oleh karena itu, Bambang mewanti-wanti kepada pemerintahan pengganti Presiden Jokowi untuk berfokus membenahi neraca perdagangan RI. Dia mengatakan membenahi neraca perdagangan menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh terlewat agar perekonomian Indonesia lebih tahan banting terhadap gejolak global.

“Ini memang sangat relevan untuk pemerintahan yang akan datang, salah satu pekerjaan rumah yang ingin kita kerjakan tetapi selalu terlewat karena memang dimensinya tidak jangka pendek adalah memperbaiki neraca perdagangan tersebut,” kata dia.

Dia mengatakan surplus neraca perdagangan Indonesia ke depannya tidak bisa hanya bergantung pada komoditas. Dia mengatakan ketergantungan pada harga komoditas membuat keseimbangan eksternal RI menjadi rapuh.

“Untuk memperbaiki keseimbangan eksternal terutama bagaimana caranya agar surplus neraca perdagangan kita itu tidak hanya bergantung pada harga komoditas, buktinya di surplus perdagangan kita yang terakhir itu di bawah US$ 1 miliar, padahal dalam waktu 3 tahun 4 tahun jauh di atas itu,” kata dia.

Selain itu, Bambang mengatakan ada pekerjaan rumah kedua bagi pemerintah Indonesia, yakni memperbaiki defisit yang cukup akut pada neraca perdagangan di sektor jasa. Dia mengatakan defisit tersebut terjadi pada sektor jasa perkapalan maupun jasa keuangan. Dia mengatakan defisit itu perlu dibenahi agar perekonomian Indonesia dapat lebih tangguh menghadapi ketidakpastian global.

“Ini satu hal yang barangkali tidak banyak dibicarakan, tetapi itu yang membuat setiap kali ada suatu istilahnya disrupsi eksternal, baik itu berasal dari Bank Sentral Amerika atau tensi seperti sekarang itu yang membuat kita selalu khawatir akan terjadi outflow, rupiah akan tertekan dan kemudian kita juga khawatir cadangan devisa terkuras,” katanya.

“Jadi kita enggak bisa lagi menunda-nunda, ayo kita perbaiki secara struktural neraca perdagangan kita khususnya di bagian neraca berjalan,” kata dia melanjutkan.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Cerita Sri Mulyani Jadi Menkeu Pertama RI yang Berkunjung ke Papua


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *