Jakarta, CNBC Indonesia – Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan gerakan Islam Palestina yang berperang melawan Israel itu tetap berpegang teguh pada persyaratan gencatan senjata di Jalur Gaza, termasuk penarikan militer Israel.

“Kami berkomitmen terhadap tuntutan kami: gencatan senjata permanen, penarikan musuh secara komprehensif dan menyeluruh dari Jalur Gaza,” kata Haniyeh dalam pidato yang disiarkan televisi untuk memperingati Hari Al-Quds pada Rabu (3/4/2024), seperti dikutip Reuters.

“…Pemulangan semua pengungsi ke rumah mereka, mengizinkan semua bantuan yang diperlukan bagi rakyat kami di Gaza, membangun kembali Jalur Gaza, mencabut bantuan yang diperlukan bagi rakyat kami di Gaza, membangun kembali Jalur Gaza, dan mencabut hak-hak blokade dan mencapai kesepakatan pertukaran tahanan yang terhormat,” tambahnya.

Pertukaran yang dia maksud adalah pembebasan tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel dengan imbalan sandera Israel yang ditahan oleh militan di Gaza sejak serangan pada 7 Oktober.

Di sisi lain, Israel mengatakan pihaknya hanya tertarik pada gencatan senjata sementara untuk membebaskan sandera. Hamas mengatakan pihaknya akan membiarkan mereka pergi hanya sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.

Para pejabat Israel mengunjungi Mesir awal pekan ini dalam upaya baru untuk mencapai kesepakatan, namun seorang pejabat Palestina yang dekat dengan upaya mediasi mengatakan belum ada tanda-tanda terobosan rencana gencatan senjata.

Di Doha, Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan pada Rabu bahwa negosiasi gencatan senjata di Gaza menemui jalan buntu terutama karena kembalinya para pengungsi ke berbagai wilayah Palestina.

Sebuah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan bahwa pemimpin Qatar tersebut merujuk pada permintaan Hamas agar warga Palestina, yang kehilangan tempat tinggal, bebas kembali ke rumah mereka di Gaza utara.

“Hamas ingin masyarakat dapat kembali ke utara. Hal ini sangat besar bagi Hamas dan Israel menyulitkan mereka dalam hal ini. Israel tidak ingin mereka (pengungsi Palestina) memiliki kebebasan bergerak,” kata sumber tersebut, yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitifnya masalah tersebut.

Dari 253 orang yang ditangkap oleh Hamas selama serangan 7 Oktober yang memicu perang Gaza, 134 orang masih ditahan dan tidak bisa berkomunikasi di wilayah kantong Palestina.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


5 Update Perang Gaza: Jumlah Korban-Israel Acak-Acak Tepi Barat


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *